masih berhubungan sama postingan sebelumnya, saya mo sekedar berbagi pikiran saya tentang hal tersebut. dan suatu bentuk kesimpulan keluar dari otak saya:
klo secara ideal, yang namanya nyuri –pembajakan bagi banyak orang adalah sama dengan pencurian– gimana pun gak bener –klo gak mau dibilang salah–. tapi apalah daya orang2 yang ‘gak punya’ demi mengejar perkembangan jaman? klo semua harus ngikutin peraturan dan hukum perlindungan hak cipta, kapan mahasiswa indonesia bisa maju? –saya fokus ke mahasiswa dulu, karena saya mahasiswa– pasti jadi banyak yang gak ngerti akan banyak hal. gimana bisa ngerti klo dari sekedar operating system –yang berarti sistem pengoperasian– nya aja udah sangat mahal, apalagi segala software pendukungnya? jaman sekarang ini klo kalkulasi cuma dilakukan pake yang namanya kalkulator, secanggih apa pun kalkulator itu, gak akan pernah bisa berkembang pesat. alhasil, buat belajar mahasiswa ‘terpaksa’ beli software2 bajakan yang dibutuhkan tentunya dengan harga yang sangat terjangkau.
apa kepintaran, kemampuan, dan kecanggihan suatu teknologi cuma punyanya orang yang banyak duit atau orang2 yang beruntung punya pemerintahan yang gak pelit sama yang namanya pendidikan? trus kapan indonesia mo ngejar negara2 maju lainnya? saya sebut indonesia di sini lebih khusus kepada para pembelajar yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah hal yang sangat penting.
toh yang saya liat, dengan pembajakan yang gila2an di indonesia ini tetep aja yang namanya Bill Gate kaya raya –ini bener2 kaya raya lho!!!!!–. artinya kan klo program2 itu mau digratiskan –atau klo gak mau gratis, harganya sangat murah deh– buat negara2 berkembang, si pembuat program juga gak akan jadi miskin. jual lah barang2 tadi dengan harga mahal ke negara2 yang emang mampu beli dengan harga mahal. karena bukannya pendidikan tu untuk semua? pintar bukankah seharusnya hak buat semua orang? trus mana yang lebih penting: hak untuk menjadi pintar atau hak untuk menghargai karya cipta orang lain?
klo pemikiran ideal tadi pun gak bisa terealisasi, seenggaknya harusnya pemerintah yang bisa turun tangan dan bertindak. beli lah barang2 tadi dengan cara yang legal, lalu dengan cara yang juga legal, sebarkanlah barang2 tadi buat kemaslahatan rakyatnya. tapi klo di indonesia, pemikiran kayak ini juga termasuk terlalu ideal…
sekarang klo dalam hal pembajakan di luar kepentingan akademis, kayak ngebajak game atau lagu2 atau film2. ini jadi berat menurut saya. berat karena semua itu bener2 merupakan ‘kenikmatan’ ^^’ siapa sih yang gak mo denger lagu2 terbaru yang lagi hits di negeri sebrang, atau film2 teranyar yang lagi heboh jadi bahan omongan di mana2, atau game2 super keren yang sangat menggiurkan buat dicoba? dengan adanya ‘teknologi hitam’ tadi dan kelonggaran yang luar biasa dari pemerintah kita, semua itu jadi sesuatu yang sangat mudah buat didapet.
tapi masih sama kayak di atas. dengan segala bentuk pembajakan kayak tadi, tetep aja tuh yang bikin film2, lagu2, game2, jadi orang kaya semua –kecuali mungkin yang berasal dari indonesia, karena barangnya cuma laku di indonesia, dibajak pula ^^’–. klo segala ‘kenikmatan’ tadi dibandrol dengan harga yang sangat mahal, gimana orang indonesia bisa lari dari kepenatan? ah, ini sih bisa2nya saya aja, hehe..
saya coba menyederhanakan kesimpulan dari pikiran saya: bahwa ternyata bener2 keadilan tu ada yang ngatur, dengan cara yang gak kebayang sebelumnya. saya bukan seorang yang ahli dalam bidang agama, tapi klo diliat kondisi dunia yang kayak sekarang ini, di mana orang kaya dan orang miskin berada di dua sisi yang sangat bereberangan, yang namanya perlindungan hak cipta itu cuma berlaku dan baik buat orang2 dari kalangan atas aja. buat orang2 di kalangan bawah, jangan harap bisa ikut nikmatin segala gemerlapnya dunia ini. seorang temen pernah bilang –sengaja saya kutip karena menurut saya dan juga dia berhubungan sama keadaan dunia sekarang–, klo yang namanya kapitalisme itu gak beda dengan yang komunisme. ketika komunisme dipandang sebagai sesuatu yang buruk, itu cuma efek dari kalahnya para pemegang paham komunisme oleh para pemegang paham komunisme. kapitalisme lah yang bertanggung jawab atas segala kesenjangan yang ada sekarang. konsep “raih untung yang setinggi2nya dengan modal yang serendah2nya” udah bikin banyak orang yang akhirnya bersenang2 di atas penderitaan orang lain.
pembajakan itu pada akhirnya saya pandang sebagai bentuk pemberontakan dari adanya rasa terpinggirkan, ‘anti kemapanan’ klo saya gak salah ngambil istilah.
terakhir, saya cuma bisa bilang, semua diserahkan kepada masing2 individu buat menanggapi fenomena pembajakan ini. yah, selama pembajakan di indonesia masih diurus dengan sangat longar, ‘manfaat’ kan lah dengan sebaik2nya, kayak contoh saya di atas yang menggunakan pembajakan sebagai sarana mengejar ilmu yang setinggi2nya. klo buat game, film, lagu, dan jenis2 kenikmatan lainnya, klo bisa dikurangin lah. klo emang nanti udah kaya, belilah fasilitas game yang terjangkau dan nikmatin sejauh yang kita bisa. untuk lagu2, rasanya harga jual produk aslinya masih terjangkau deh, masih masuk akal lah. buat film2, dalam hal ini movie, masih bisa lah dinikmatin di bioskop. toh lebih nikmat daripada cuma nonton lewat komputer atau dvd player di rumah. klo buat serial2 tivi, berharaplah segera diputar di tivi2 lokal, jadi gak perlu ngebajak, hehe..
saya sendiri punya prinsip –yah, masih prinsip jadi2an lah, hehe..–, khusus buat produk2 asli dalam negeri kayak film2 atau lagu2 –program komputer dan game kayaknya masih jarang deh, atau malah gak ada?– gak BOLEH dibajak. kan kasian, udah produknya susah nembus pasar dunia yang artinya cuma bisa melanglangbuana di wilayah indonesia –paling banter se-asia lah– masak iya masih harus kita bajak? kapan rakyat indonesia jadi orang kaya???