21 Juni 2008
harusnya udah tidur nih, cuma ada hal yang rasanya gak bisa ditangguhkan. ini tentang STIP, yang sekarang lagi didiskusiin di RCTI.
semua orang udah tau, seperti yang banyak ditayangin di tivi, STIP sekarang lagi dapet sorotan tajam dari masyarakat setelah budaya kekerasan di sana menelan korban jiwa. dan lagi2 seperti kasus di IPDN, budaya kekerasan baru terbongkar setelah ada yang jadi ‘pahlawan’: tewas karena dianiaya senior.
setelah fakta itu, kayak kasus sebelumnya di IPDN, STIP jadi kayak tempat yang sangat menakutkan, dan orang2 di dalamnya, khususnya para senior dan penanggung jawab di dalamnya, jadi pesakitan yang ditunjuk2 sebagai pihak yang paling bersalah. sebaliknya, para junior dianggap sebagai korban dari sebuah sistem yang salah dan gak bermoral.
fakta itu menjadi semakin terasa luar biasa dengan adanya pemberitaan yang dilakukan oleh media2 massa. video amatir yang merekam peristiwa ‘penyiksaan’ bersama para senior kepada para junior dijadikan ujung tombak media untuk menusuk dan mengarak pihak STIP ke masyarakat luas.
masyarakat, termasuk juga saya, tentunya sangat miris melihat orang ditampar, ditonjok, dan dianiaya kayak yang saya lihat di video itu. rasanya terlalu sadis klo kedisiplinan harus diterapkan dengan cara keras yang kasar kayak gitu. seharusnya ada cara lain yang bisa dilakukan tanpa harus ada bumbu2 penganiayaan. sekilas terlihat bahwa STIP menjadi sangat bersalah klo kita melihat HANYA fakta itu. tapi untungnya malam ini saya lihat fakta lain di balik penyelenggaraan STIP ini.
seorang narasumber yang diundang oleh RCTI mengungkapkan fakta lain, fakta yang gak diungkap di media massa. dia menyebutkan bahwa setelah acara perpeloncoan seperti yang terlihat di dalam video amatir, ada acara keakraban di antara senior dan junior. tujuannya adalah memperkuat tali persaudaraan di antara mereka. nara sumber yang lain juga mengatakan, kaus yang dipakai oleh para junior yang terlihat sobek2 sebenarnya bukan akibat dari penganiayaan yang dilakukan, tapi merupakan simbol bahwa mereka, para junior, telah melewati tahapan yang lebih tinggi. setelah baju mereka disobek oleh senior, para senior memberikan seragam mereka kepada juniornya. yah, setidaknya itu yang dikatakan oleh nara sumber tersebut.
yang mau saya sampaikan adalah, media nampaknya lebih senang mengumbar fakta buruk dari suatu institusi. mereka berlaku tidak fair dalam mengungkap suatu fakta. kekerasan merupakan suatu fakta, tapi keakraban dan persaudaraan antara junior dan senior –yang gak banyak terjadi di institusi lainnya– gak diungkap. tampaknya kekerasan emang lebih laku dijual daripada keakraban dan persaudaraan. sebuah kasus kematian seorang mahasiswa seakan2 jadi alasan kuat dan satu2nya alasan untuk membubarkan STIP. akhirnya hanya itu yang terus menerus diumbar di media massa. STIP digambarkan sebagai sebuah institusi pembantaian daripada sebuah institusi pendidikan. media hanya mau menerima fakta lain yang mendukung fakta tentang kekerasan. fakta lain yang dianggap tidak mendukung, gak diangkat, mungkin karena dianggap bisa menurunkan nilai jual. akhirnya, masyarakat yang juga gak kalah bodohnya, ikut2an menyerukan kecaman atas STIP.
bisa dilihat di RCTI, begitu banyak kiriman sms dari masyarakat yang bernada kecaman terhadap STIP. STIP dikatakan biadab, gak bermoral, preman, arogan, dan lain sebagaimnya. hampir gak ada, bahkan sejauh yang saya liat, gak ada sama sekali sms yang bernada pembelaan terhadap STIP. apa iya sih gak ada satu pun yang merasakan manfaat STIP? apa gak ada satu orang saja yang menyampaikan dukungan moril bagi pihak STIP dalam berbenah diri?
seharusnya masyarakat harus lebih pintar dan arif dalam menyikapi suatu berita. seburuk apa pun berita, pasti ada sebab dan hal yang melatarinya. kekerasan di STIP adalah suatu keburukan, itu pasti. tapi mengeneralisasi bahwa seluruh yang berhubungan dengan STIP adalah buruk, itu adalah suatu kesalahan. masyarakat sekarang ini udah biasa hidup mudah, enak, dan bebas, gak terbiasa dengan kehidupan teratur dan disiplin tinggi. kepatuhan biasanya disebut kekakuan, rasa hormat terhadap atasan dianggap sebagai bentuk ketakutan bawahan. mereka menganggap bahwa pendidikan di institusi non-militer lebih baik dari institusi yang bergaya militer. padahal gak selamanya juga institusi non-militer itu bagus. banyak universitas2 yang jauh dari gaya militer mencetak generasi beringas yang sifat premannya sangat kental. bisa kita liat bagaimana gaya demo mahasiswa sekarang ini: anarkis yang mengarah brutal!
kembali lagi ke kedewasaan masyarakat. masyarakat sekarang ini nampaknya malas mencari informasi yang lebih lengkap dari suatu peristiwa. kebanyakan hanya menerima dan kemudian menyerap apa yang disuguhkan di depan mereka. dan media menjadi pihak yang seharusnya paling bertanggung jawab atas apa yang diterima oleh masyarakat. klo aja media bisa lebih bijak dan pintar dalam memberitakan suatu peristiwa, pastinya masyarakat kita juga ikut2an menjadi bijak dan pintar. mungkin media udah cukup pintar, tapi sayangnya hanya pintar mencari mana peristiwa yang laku untuk dijual atau tidak.
bukannya mendukung kekerasan di STIP, karena kekerasan kayak gitu udah pasti salah, secara kasat mata jelas. tapi klo kita menanggapinya dengan pikiran sempit dan kerdil, mudah aja kita bisa bilang “bubarkan STIP!”. gak banyak masyarakat yang dengan cerdas ngasih masukan yang membangun dan logis dalam menanggapi masalah itu. kebanyakan gak mau berpikir. dan itu adalah tabiat bangsa, malas berpikir tapi banyak ngomong.