apa sih sebenernya esensi jadi seorang sarjana? bukan sembarangan sarjana lho, tapi jadi sarjana teknik elektro dari salah satu institusi terbaik negara ini: ITB. ketika udah bener2 diwisuda, nama seseorang dibubuhi sedikit saja dengan inisial ST –tentunya tanpa tambahan ITB. masa’ jadi ST.ITB, hehe…–. 2 huruf yang mewakili identitas tentang ’siapa saya sekarang, dan apa yang sudah saya lewati untuk mendapatkan identitas tersebut!’. tapi apa sih sebenernya esensinya? apakah kemudian hanya menjadi sebuah gelar kehormatan –dipakai untuk cari kerja, dan juga cari jodoh :p–, ataukah ada sebuah ‘akibat’ lain seperti yang namanya TANGGUNG JAWAB?
beberapa hari yang lalu, temen2 saya di teknik elektro –perlu ditekankan, bahwa saya tidak ada di dalamnya, hehehe…– , khususnya dari angkatan 2004, telah sukses –wlo, sayangnya, gak semua– melewati momen terpenting dalam kehidupan mereka sebagai seorang mahasiswa: SIDANG TUGAS AKHIR. dicecar beberapa pertanyaan, dimintai pertanggungjawabannya selama kuliah di ITB, lalu kemudian diputuskan apakah telah layak meninggalkan ITB dengan membawa status SARJANA TEKNIK di belakang nama mereka. emang sih saya gak melihat langsung momen2 bersejarah itu, karena ’sibuk’ di rumah ^^’. tapi klo denger dari kisah beberapa temen kayaknya menantang sekali ya. bener2 seorang mahasiswa dihajar habis2an, digembleng selama beberapa saat –klo gak salah 1 jam–, seakan-akan para dosen gak rela gelar SARJANA TEKNIK ‘dibagi-bagikan’ dengan mudah. dosen: “NO PAIN, NO GAIN!!!”
tentunya yang namanya jadi sarjana itu udah bukan barang baru lagi. mungkin dah jutaan, atau ratusan juta sarjana telah lahir di tanah pertiwi ini, beberapa di antaranya merupakan cetakan terbaik dari ‘pabrik’ bernama ITB. tapi mungkin gak banyak yang sadar bahwa ada amanah besar yang juga mereka bawa bersama titel tersebut. amanah yang datang dari orang2 yang gak mampu menjadi seperti mereka, yang menginginkan perubahan kehidupan menjadi lebih baik, yang berharap bahwa para sarjana itulah yang akan membawa perbaikan itu.
sarjana hanya menjadi sebuah kata: sarjana, klo seseorang gak bisa memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk melakukan perubahan, pergerakan menuju perbaikan. bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang2 di sekitarnya, dan juga untuk lingkungannya. mungkin orang2 dengan kehidupan yang sulit –tidak memiliki cukup kemampuan untuk menjadi terdidik– akan bilang: “kami gak butuh gelar anda, tapi kami butuh bukti!”. bukti tentang apa? bukti bahwa anda akan menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih baik. ada harapan2 besar, bahwa semakin banyak orang pintar di Indonesia ini, maka semakin baiklah negara ini.
tapi kenyataannya, negara ini makin lama makin terpuruk –tentunya TIDAK di segala aspek, tapi di kebanyakan aspek yang justru sangat fital–. lalu kemanakah para SARJANA itu? apa yang salah? saya sendiri gak tau. mungkin begini:
SARJANA = pintar
makin banyak SARJANA = makin banyak orang pintar
pintar = membawa kebaikan
makin banyak orang pintar = makin banyak membawa kebaikan
tapi klo kebaikan ternyata hanya untuk diri sendiri, jelas saja kenapa Indonesia ini makin terpuruk. korupsi –sebagai sebuah momok penting di Indonesia–, pastinya dilakukan oleh orang2 yang pintar. klo gak pintar, ya keburu ketangkep, dan gak akan sempet bikin Indonesia jadi sehancur ini. berarti ada kejahatan terstruktur, yang rapi, yang ‘PINTAR’, dan yang pastinya bikin keadaan jadi kacau dan semakin kacau. SARJANA yang seharusnya identik dengan ‘membawa kebaikan’, bisa salah arah dan akhirnya justru identik dengan ‘membawa keburukan’. trus, apa yang sebenernya salah?
biar masing2 diri menjawab. ada banyak alasan, dan semua masuk akal bagi masing2 individu tersebut. kepentingan diri sendiri, kepentingan keluarga, kepentingan partai –mungkin–, dan kepentingan2 lain bisa mendasari cara berpikir dan bertindak seseorang.
“bahwa di dalam kekuatan yang besar, terdapat tanggung jawab yang besar pula.”
sebuah ungkapan bijak yang sangat baik untuk dijadikan bahan renungan bagi orang2 dengan kemampuan lebih, khususnya teman2ku yang sekarang dah jadi sarjana, dan kelak diri saya sendiri ketika gelar itu udah nempel di belakang nama saya. seharusnya kita sadar, ketika kita MEMILIKI LEBIH dari orang lain, berarti seharusnya kita MEMBERIKAN LEBIH kepada orang lain juga.
anyway, selamat ya buat teman2 EL 2004 yang udah lulus kemaren, semoga kebaikan benar2 buat kita semua.
Ilmu tidak akan bermanfaat kecuali diamalkan. Tentunya diamalkan di jalan yang benar.
Ayo Dimas!! saya tunggu susulan ST-nya
# saya sendiri juga sedang menunggu gelar itu, hehe… mohon doanya, dimudahkan dan dilancarkan, aaamiin
sometimes it doesn’t have to be ‘no pain no gain’..

emangnya musti pain kalo mau gain..
bisa kok tetep happy dan gain..
semangaaattt…!!!
# tapi tetep, there must be pains for maybe only a gain. ketika gak ada perjuangan, rasanya gak ada tu yang namanya pencapaian. klo semua lancar2 aja, di mana letak gain nya??? that’s my opinion, and i’m surely believe it
kemon bung sampe kapan mo nunggu?ayo kita kejar… hehehe…
# ternyata klo ditunggu malah gak dateng2. jadi mendingan gw yang nyamperin, hahaha… lets rock guys!!!