hhhhmmm, entah itu semua adalah intuisi, atau judgment… intinya, saya lagi2 ngerasa, they know me nothing… atau mungkin bisa juga dibalik, i know me nothing…
well, saya masih ada di alam pikiran saya sendiri. nampak sunyi di sini, gak ada yang hadir, sekedar isi absensi mungkin ^_____^ kesimpulannya sejauh ini, berikan lah apa yang mereka semua mau, yang menurut mereka SEHARUSNYA terjadi dan dilakukan, biarkan…
menghindari konflik lebih bikin saya tenang dan nyaman, daripada memaksakan pemikiran dengan se-keukeuh mungkin saya sama pemikiran saya sendiri. lalu kemudian saya mundur, dan membangun mimpi saya sendiri.
hidup ini pada dasarnya adalah, mmmm, apa ya kata yang cocok? mungkin kata NORMA, sesuatu yang dianggap BIASA atau BAIK dalam masyarakat. dalam masyarakat demokratis, rakyat adalah tuhan, dan ujung2nya, kebanyakan adalah sesuatu yang akhirnya menang, dan dilihat sebagai sesuatu yang benar.
tapi saya gak bisa membangun mimpi dan menjadi diri sendiri jika hanya menjadi kebanyakan. dan klo emang gak ada yang bisa berjalan beriringan di samping saya, ya berarti i’m on my own, hidup saya harus dibangun sendiri.
balik lagi ke kenapa saya tulis postingan ini. ada makna dan isyarat yang coba saya sampaikan di setiap tindakan, kata2, diam, dan bahkan teriakan saya, yang gak bisa dipahami secara eksplisit. tapi ya sudah, klo emang terbaca kayak gitu, ya biarlah. berarti belom waktunya diri ini bisa terbaca dengan baik. saya ingin didengar dan dipahami,tapi bukan berarti bisa dengan mudah dibaca, makanya banyak makna dan isyarat yang coba saya sampaikan secara tersembunyi…
jangan salahkan saya, please, karena saya udah muak disalahin. saya emang udah terbentuk seperti ini. saya jadi ingat seorang teman yang bisa berkomunikasi dengan saya hanya dengan tatapan mata. kami mengerti, dan tau, apa yang terlihat belum tentu apa yang sebenarnya kami maksud untuk dilihat.
pada dasarnya, setuju atau nggak, saya percaya klo saya adalah orang yang baik, dan tindakan2 saya berdasarkan sifat baik tersebut. tapi sayangnya, dunia ini merespon nggak seperti yang saya harapin. kayak yang udah pernah saya bilang ke orang2, entah saya yang terlalu cerdas, atau orang2 yang terlalu tolol jadi susah ngebaca isyarat2 dan tanda2 dari saya.
hahaha..
parah ^_____^
ah, sudahlah, mendingan cari kesibukan, membangun dunia dan mimpi saya sendiri. toh suatu hari nanti saya yakin, ada yang sanggup membaca diri saya secara utuh, tanpa menjudge, tanpa menghakimi, tanpa pula menggurui. karena rasanya itulah saya selama ini, yang selalu mencoba menjadi pribadi yang mengerti dan merasakan bagaimana menjadi orang lain.
sayangnya itu bukan kamu. dan benar saja, sosok di padang oase itu tak lain adalah aku sendiri, penyelamat diri ku sendiri…
aku yang tetap aku, seorang ‘pembaca’ yang tidak ahli ‘menulis’
di dalam sesak kegalauan, mencoba menghirup semilir angin ketangguhan
bersama dirinya sendiri, di atas kaki sendiri
knp mas?
siapa?
# tak taulah
Galau bung?
Maen PES yuk, biar jernih kembali pikirannya..
Hahahahahaa…
# iya nih bung al, galau awak, dah lama gak bantai orang :p