Archive for the 'Serius!' Category

03
May
09

okay, i’ll make it easier…

good-luck-fu-chinese-calligraphy

oke. gak perlu ada lagi mengeluh tentang keadaan. masih banyak di dunia ini yang bisa digarap, bisa dilakukan, karena dunia ini butuh saya, lebih dari apa pun. so, i have to be something more and more better each time i breath.

never getting bored to say: danke. it’s great to know ya, better then i’ve ever knew. don’t be a part of our problem. it’s already sick you much.

live your life, as always. gut lak! :D

15
Jan
09

Facebook membiayai perang di Gaza?

diambil dari sini, dengan judul yang sama. sebuah fakta yang mengejutkan…

####

Fenomena facebook begitu gempar di Indonesia, sampai-sampai ada facebook dalam bahasa indonesia. Saya heran bukan main, satu per satu teman saya mendaftar di facebook. Tidak heran kalau di tahun 2008 facebook meraup keuntungan 300 juta dollar amerika karena lebih dari 140 juta user aktif di seluruh dunia dan 8,5 juta foto dimuat tiap harinya. Bagi yang belum tahu apa itu facebook bisa baca artikel ini. Facebook memberikan banyak kemudahan bagi kita, dari mulai menjalin relasi sampai cari uang dari facebook, baca juga artikel ini dan artikel ini. Tapi keuntungan yang sebanyak itu digunakan untukmembiayai perang di Gaza. Benarkah?

Continue reading ‘Facebook membiayai perang di Gaza?’

08
Jan
09

BOYCOTT ISRAEL CAMPAIGN

08
Jan
09

Palestinian loss of land, 1946 to 2000

landloss

08
Jan
09

Israeli oh Israeli… bunch of Brute Animals…

PLEASE READ & PASS ON!
Israeli soldiers passing out candy to the kids

image001.jpg@01C96F4C.7038AD50

Continue reading ‘Israeli oh Israeli… bunch of Brute Animals…’

05
Jan
09

Surabaya dulu, Gaza sekarang…

forward dari milis tetangga:

From: alex red <terpaksabikinemail[a]yahoo[dot]com>
Subject: [alumni_ppsdms] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang

Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad

Surabaya, 1945

Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman: “menyerah, atau hancur”.

Continue reading ‘Surabaya dulu, Gaza sekarang…’

15
Dec
08

Tentang Empati, dari berbagai sumber (Part 1)

ini dapet artikel sangat menarik –bagi saya :D — dari sebuah link:

####

aku bermimpi tentang kita semalam
bersama kita di taman ria
melepas kepergian balon udara jingga tak bertuan
dengan gembira kita tiupkan gelembung-gelembung udara untuk mengantar kepergiannya
namun, apa maksud kepergian balon udara jingga itu kita tak tahu
aku juga tak tahu kenapa kita segembira itu melepas kepergiannya
mungkinkah ia membawa serta kepedihan masing-masing dari kita?
aku tak tahu
tapi aku tahu aku ingat satu hal
kau mengenakan gaun mini berwarna senada dengan sang balon udara
apakah itu artinya sang balon udara belum sepenuhnya membawa kepedihan hatimu?
050908

Puisi ini adalah sebuah fenomenon yang cukup menarik karena menstimulus sebuah pertanyaan dalam diri saya, “benarkah seoranng manusia bisa membaca pikiran orang lain?”.

Puisi ini dikirimkan oleh seorang teman saya (mulai sekarang kita sebut sebagai “P”) kepada temannya yang lain (kita sebut “N”). Isinya cukup jelas, tentang mimpi P pada malam sebelumnya. Di mimpi tersebut, P dan N sedang di taman ria. Mereka merasa gembira saat melepas sebuah balon jingga. Tapi, N ternyata mengenakan gaun berwarna sama dengan balon tersebut.

Setelah P terbangun, dia mencoba untuk mencari tahu arti dari mimpi tersebut. P ingat bahwa akhir-akhir ini, mereka berdua (P dan N) sedang mengalami masa-masa sulit. Tetapi, perlahan P kembali pulih. Begitu juga yang terlihat pada N. Maka, P menyimpulkan bahwa balon udara berwarna jingga tersebut adalah simbol dari masa sulit mereka yang telah meninggalkan mereka. Tetapi, dalam mimpi tersebut, N memakai baju yang serupa dengan balon udara yang menjadi lambang masa sulit mereka. P berpikir, mungkin hal ini juga menandakan sesuatu. Mungkin, dibalik yang terlihat, N masih merasakan kesedihan dari masa sulit yang dia alami dulu. Mungkin N masih belum pulih sepenuhnya sejak meninggalkan masa sulit tersebut.

Kemudian, P pun menulis puisi di atas. Dia lalu mengirimkannya pada N beserta pemikirannya mengenai arti dari mimpi tersebut. Tanpa pernah diceritakan secara langsung oleh N mengenai kesedihan N yang belum pulih, rupanya tebakan P benar. Oleh karena itu, saya menyimpulkan bahwa P telah membaca pikiran N. Perlu dicatat di sini bahwa P bukanlah seorang mahasiswa psikologi, yang artinya, dia tidak pernah mendapatkan latihan khusus mengenai empati.

Selama beberapa bulan setelah kejadian ini, saya terus memantau mimpi-mimpi yang dimiliki oleh P. Walau dengan teknik observasi dan wawancara informal, saya menemukan bahwa mimpi-mimpi P terkadang cukup tepat dalam menebak kondisi internal orang lain, walau pun banyak juga yang merupakan gambaran dari pandangannya terhadap suatu masalah.

Proses Membaca Pikiran

Apakah yang disebut dengan kemampuan membaca pikiran? Daniel Siegel, seorang psikiater dari UCLA, menganggap kemampuan membaca pikiran sebagai kemampuan untuk mempersepsi isi pikiran orang lain dengan mengartikan petunjuk-petunjuk yang diberikan (baik secara sadar atau pun tidak sadar) oleh orang tersebut. Siegel memberi nama kemampuan ini mindsight, atau kemampuan otak untuk membuat peta dari kondisi mental orang lain. William Ickes dari University of Texas memberikan konsep lain, yaitu Empathic Accuracy, yaitu kemampuan untuk secara tepat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Kemampuan membaca pikiran orang lain ini sebenarnya dimiliki oleh setiap orang. Mungkin kita ingat kalau kita kadang menebak mood orang lain sebelum kita meminta sesuatu darinya, ini adalah contoh dari kemampuan membaca pikiran. Tapi, memang tidak mudah untuk membaca pikiran orang lain. Tingkat keakuratan seseorang untuk membaca pikiran orang yang baru pertama kali dia temui adalah 20 persen. Tingkat keakuratan membaca pikrian antar teman baik atau suami-istri adalah 35 persen. Hampir tak ada orang yang memiliki tingkat keakuratan membaca pikiran di atas 60 persen. Tetapi, kemampuan ini adalah kemampuan yang cukup penting dalam kehidupan sosial, dan merupakan kemampuan yang dapat dilatih.

Bagaimana proses P membaca pikiran N? Ada dua pendekatan yang terjadi. Yang pertama adalah melalui bantuan indera. Yang kedua, dengan kemampuan manusia untuk menangkap emosi dari manusia yang ada di dekatnya. Kedua pendekatan tersebut bersifat saling melengkapi. Pada pendekatan pertama, P mendapatkan informasi mengenai kondisi internal N melalui hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera P. Misalnya, P mungkin menangkap maksud dari perkataan-perkataan N yang bersifat tersirat mengenai keadaan dirinya (bahkan yang N sendiri tak sadar bahwa itu adalah sebuah curahan isi hati). P mungkin juga menangkap adanya tanda-tanda kesedihan dari bahasa tubuh atau getaran dan nada suara yang dikeluarkan N. P juga mungkin saja menangkap adanya kesedihan dari ekspresi wajah N (khususnya mata yang sangat ekspresif karena dikelilingi oleh banyak otot yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi emosi).

Pada pendekatan kedua, P mengetahui kondisi N karena P menyamakan frekuensi emosinya dengan N. Manusia memang memiliki kemampuan untuk melakukan hal ini. Saat kita mengikuti perkataan, ekspresi, gerak tubuh, dan sikap fisik orang lain, kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Bahkan, dengan berada di dekat orang lain saja, kita dapat “menangkap” perasaan orang lain dan menyalinnya menjadi perasaan kita sendiri dengan mengubah kondisi fisiologis tubuh kita agar serupa dengan orang tersebut. P mungkin menangkap sinyal emosi sedih yang dikeluarkan oleh N.

Jika diperhatikan, usaha dari menjelaskan fenomenon membaca pikiran yang dialami oleh P didominasi oleh kemungkinan-kemungkinan. Hal ini disebabkan karena P sendiri tidak menyadari bahwa dia telah membaca pikiran N. Informasi-informasi dari indera dan emosi N yang tertangkap bersifat terlalu halus sehingga hanya dapat ditangkap oleh alam bawah sadar P. Sesuai dengan fungsinya, mimpi –- yang menjadi alat penghubung antara alam sadar dan alam bawah sadar— digunakan oleh alam bawah sadar P untuk memberitahukan alam sadar P mengenai apa yang diketahuinya. Akhirnya, alam sadar P pun tahu kalau P telah menangkap kesedihan N.

Kesimpulan
Mungkin konsep “Membaca Pikiran” yang terjadi pada fenomenon P ini tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh anda (yaitu, kemampuan psychic atau kemampuan superhero di dalam komik Marvel atau DC). Tetapi, sampai saat ini, memang belum ada suatu alat yang dapat mengukur secara tepat apakah seseorang dapat melirik ke dalam pikiran orang lain, sehingga apakah kemampuan itu ada atau tidak di dunia ini masih belum dapat dibuktikan. Dalam kasus P, yang terjadi hanyalah P secara tepat menangkap sinyal-sinyal hasil sampingan dari pikiran otak, dimana kemudian P dapat secara tepat merekonstruksi ulang proses berpikir orang tersebut. Kesimpulan terjauhnya adalah, P memang memiliki tingkat sensitifitas tinggi terhadap apa yang dipikirkan orang lain, dengan mengartikan (secara tidak sadar) sinyal-sinyal yang dipancarkan orang tersebut.

####

setelah baca artikel ini, saya jadi o_O! hehehe, ternyata ada aja ya ilmu nya :) ) senang menyadari bahwa saya gak sendirian :D

14
Dec
08

Empati: resonansi perasaan… (part 2)

masih bertema tentang empati, seseorang mengingatkan saya, klo segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik. ya, itu betul, dan sangat betul, sepenuhnya saya sepakat Rasulullah solat kebanyakan aja ditegor!! hehehe…–. nasihat itu pernah bikin saya berpikir untuk berhenti mendengarkan, berhenti merasakan, dan pada akhirnya berhenti membantu. karena perasaan shock itu mengarah ke perasaan sakit, marah, dan sedih yang bercampur baur dan berlebihan. sebuah bentuk perasaan yang sama sekali gak enak –klo gak percaya, coba deh rasain sendiri T_T!–. saat itu, saya pikir, apa iya ya, apa saya harus berhenti, toh yang kayak saya cuma satu ini di sekitar saya ^^’. sa bodo teuing sama orang lain, lah wong itu masalah mereka, ya silakan aja diselesaikan sendiri. toh mungkin klo mereka cerita ke orang lain, kata2 itu yang akan mereka dapet. tapi sayangnya, saya gak bisa…

membantu adalah bagian dari diri saya… itu kayak sebuah sumber energi kehidupan saya, yang klo itu berhenti bekerja, suplai energi akan berhenti, dan selesailah kehidupan saya… mungkin gak akan mati, tapi saya yakin kehidupan itu nantinya akan kosong, gak ada artinya… jadi, saya ternyata gak bisa lari dan berhenti, hanya karena apa yang udah saya alami…

hidup adalah pembelajaran, rentetan ujian yang membuat orang di dalamnya menjadi lebih hebat di tiap levelnya. saya sendiri yang bilang, ini semua mirip main game. tiap kita selesai di satu level, kita akan maju ke level berikutnya, level dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. tapi dengan semakin meningkatnya level kesulitan, ternyata kita juga dibekali dengan kemampuan yang lebih hebat. klo tadinya cuma bisa lonjat 1 senti, berikutnya bisa loncat 3 senti. klo tadinya cuma punya pistol, berikutnya jadi punya rudal!!! dan seperti itulah hidup dalam analogi saya. tapi ada perbedaan yang sangat besar, yaitu bahwa hidup gak bisa di-save, gak bisa di-pause, gak bisa di-resume, gak bisa di-skip, gak bisa di-undo, gak bisa pula di-restart. setiap kesalahan yang kita lakukan adalah bagian dari kehidupan itu, dan kita menjadi sesuatu bersama kesalahan yang kita lakukan.

jadi saya pun hidup bersama kemampuan ini, kemampuan yang akan semakin hebat jika semakin ditempa dan dilatih. pengalaman hidup saya terkait dengan kemampuan ini, membuat saya semakin baik dan matang. mungkin Allah sedang mempersiapkan diri saya untuk menghadapi sesuatu yang lebih hebat di kehidupan yang akan datang. dan mungkin Allah sekarang juga sedang menegur saya, karena saya terlena, karena saya lupa, karena saya salah dalam menapakkan jejak, dan karena saya keliru dalam melangkahkan kaki…

tapi untuk sementara, mungkin saya akan mundur sedikit atau mungkin jauh– dari banyak orang, dengan masalah2 mereka sendiri. saya ingin berlatih membiarkan sesuatu terjadi apa adanya, tanpa ada campur tangan saya di dalamnya. toh yang sedang diuji bukan cuma saya, tapi semua orang di sekitar saya. mungkin ada baiknya saya istirahat dari terlalu memikirkan orang lain, dan melihat apa yang akan terjadi, lalu kemudian ikhlas menerima apa pun hasilnya nanti… hhhhh, goresan2 di dalam hati ini udah terlalu dalam, jadi mungkin harus dibiarkan sejenak, supaya hati bisa menyembuhkan dirinya sendiri.

pada akhirnya saya hanya bisa mengucap, maaf…, karena saya gak sanggup lagi untuk marah. kayak yang udah pernah saya bilang, marah itu bikin capek, saya butuh pelampiasan lain yang lebih tenang tapi tetap melegakan. hhhmmm, mungkin benar, menangis adalah solusi terbaik untuk saat ini. tertawa juga bikin emosi teralihkan, wlo hanya sesaat. sekali lagi saya mengucap, maaf…, karena saya udah terlalu marah dan benci… tapi semoga itu hanya bentuk kelemahan saya yang merasa tertipu, dan semoga itu tidak permanen ada di dalam hati ini. saya udah pernah menyimpan perasaan marah dan benci yang teramat sangat, lalu saya pun belajar dan akhirnya berhasil mengikhlaskannya. kenapa sekarang gak bisa? toh hati ini lebih senang terisi dengan keikhlasan daripada kemarahan dengan tanda tanya…

tapi gak sekarang… hati butuh waktu, untuk menutup lubang yang terlanjur lebar menganga, karena terkoyak kail tajam yang tadinya sengaja dikaitkan. kenyataannya, ‘rasa’ itu udah terlalu dalam saya tanam, sebuah kesalahan yang semoga gak pernah saya lakukan lagi… suatu saat, ketika saya perlu menaruh suatu ‘rasa’, insya Allah saya sudah siap menempatkannya di tempat terdalam, tanpa adanya rasa takut untuk terkoyak lagi.

tapi sekali lagi, gak sekarang, karena hati ini butuh waktu… jadi, pegang kata maaf itu, karena baru itu yang bisa saya sediakan sekarang. anggap aja itu sekoci yang bisa jadi penyelamat di saat kapal karam dan mulai bergerak ke dalam air, tenggelam…

14
Dec
08

Empati: resonansi perasaan (part 1)

hhhhmmm, apa jadinya klo seseorang yang ‘mendengar’, sebenarnya gak hanya ‘mendengar’ tapi juga ‘merasakan’??? lalu saya teringat satu kata: empati. apa itu empati?? saya bukan psikolog, dan sekarang lagi gak berminat mendalami apakah empati itu ^^’ oke, cari tau dengan id.wikipedia.org, dan hasilnya adalah:

Empati (dari Bahasa Yunani εμπάθεια yang berarti “ketertarikan fisik”) didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain. Karena pikiran, kepercayaan, dan keinginan seseorang berhubungan dengan perasaannya, seseorang yang berempati akan mampu mengetahui pikiran dan mood orang lain. Empati sering dianggap sebagai semacam resonansi perasaan.

wow! kata resonansi perasaan itu bikin saya tergelitik, hihihi… sebuah sinyal, dikatakan beresonansi itu klo amplituda dan fasanya sama –CMIIW, masih cupu kk T_T!–. jadi apakah itu ‘resonansi perasaan’?? mungkin itu terjadi jika seseorang ‘mengatur’ perasaannya agar bisa ‘mirip’ dengan perasaan orang lain. saya katakan mirip, karena belum tentu juga suasana hati atau perasaan itu benar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, bisa jadi itu hanya anggapan si orang yang berempati –yang melakukan resonansi-perasaan– bahwa perasaan nya sudah disamakan.

wow lagi…–!! jadi inget serial tivi HEROES. salah satu tokohnya bisa memiliki kekuatan orang lain dengan melakukan empati. hahaha… gak nyambung!!! ^^’ tapi keren juga ya klo orang bisa melakukan resonansi perasaan tadi :D

tapi eh tapi, sayangnya eh sayangnya, mungkin itu gak selamanya menarik. karena kenapa?? karena saya sendiri yang ngerasain itu T_T! saya itu sering ngerasa sedang melakukan resonansi perasaan –saya pilih kata ini, karena terdengar lebih keren daripada empati, hahaha… :) )– sama orang yang lagi saya ajak ngobrol. jadi seakan-akan saya bisa menempatkan diri saya di posisi orang lain. untuk beberapa kasus dan kebanyakan kasus–, itu sangat menyenangkan, karena saya ngerasa bisa nyetel sama orang di hadapan saya. tapi untuk beberapa kasus khusus, itu sama sekali gak menyenangkan. karena, kemampuan is it???– ini gak selamanya berhasil. maksudnya, gak selamanya ketika saya sedang mencoba beresonansi, kondisi hati saya pada akhirnya bisa jadi sama dengan orang yang saya resonansikan saya bingung dalam memilih kata T_T!–. bisa jadi malah, saya ngerasa ’seakan-akan’ udah sama, padahal sama sekali gak sama ^^’.

sejauh ini, kesimpulan yang bisa saya ambil, kemampuan beresonansi dengan perasaan orang lain ini hanya berguna jika orang2 yang ngobrol dengan saya adalah orang yang jujur, atau tidak dapat dengan hebatnya menyembunyikan akan memanipulasi kata yang aneh… T_T!– perasaannya. karena klo sampe orang itu berhasil memanipulasi perasaannya, saya malah jadi salah dalam melakukan resonansi, dan justru bisa dimanfaatkan. klo udah begitu, saya cuma bisa bilang, poor me…“. o iya, ada hal lain yang mempengaruhi kemampuan ini. biasanya saya lebih mudah beresonansi sama orang lain klo perbincangan dilakukan secara langsung yah, minimal telepon lah ^^’–. karena resonansi ini bisa berjalan lancar klo saya menatap langsung mata orang yang bersangkutan, melihat mimik muka dan perubahannya, bahasa tubuh, dan lain sebagainya yang gak akan saya dapet klo cuma sekedar lewat tulisan atau lirik lagu mungkin, hehehe…–. klo lewat telepon, minimal saya denger suaranya dan bisa membayangkan ekspresi orang tersebut.

yah, sejauh ini, efek negatif kemampuan ini pada diri saya baru segelintir, wlo yang segelintir itu cukup bikin hari saya  jadi suram ^^’. kasus yang paling parah adalah yang sampe bikin saya shock hebat, karena merasa gagal dalam melakukan resonansi dengan benar!!! jadi, saya ngerasa udah benar, tapi ternyata kenyataannya lain. saya ngerasain sesuatu yang mungkin sebenarnya gak dirasain sama orang yang saya ajak ngobrol. dan saat itu saya cuma bisa bilang, poor me…“. itu rasanya kayak ditipu dan orang itu bilang, GOTCHA!!!menyedihkan… T_T!

oke oke, seharusnya saya gak boleh cepat menarik kesimpulan, toh rasanya gak mungkin ada yang begitu hebatnya bisa memanipulasi perasaan –selain diri saya sendiri, hahahaha…–. mungkin yang salah adalah teknik resonansi yang saya lakukan. ya ya ya, mungkin ada hal hal yang miss dan gak saya lakukan, bikin saya terlalu cepat mengambil kesimpulan dan bertindak. okelah, saya anggap setiap peristiwa adalah pelajaran, dan persiapan untuk menghadapi ‘kasus’ yang lebih hebat lagi ^^’

kayak yang tadi udah saya bilang, kemampuan ini adalah sesuatu yang menyenangkan, tapi ternyata di satu sisi juga bisa sangat menyakitkan. karena saya secara langsung menggunakan perasaan saya sendiri untuk menggambarkan perasaan orang lain, jadi klo pas perasaan itu adalah perasaan yang baik, baik juga lah buat saya. tapi klo pas perasaan nya buruk, perasaan saya jadi ikut2an buruk. nah, seringnya kemampuan tadi saya pake untuk fokus membantu orang lain dalam memecahkan masalah, jadi kebanyakan resonansi dilakukan ke orang dengan kondisi perasaan yang buruk. biasanya, saya membiarkan perasaan saya resonan sama orang tersebut, baru saya analisa halah, ini bahasanya ketinggian…– dan saya cari jalan keluarnya. untuk kebanyakan kasus sih oke oke aja karena biasanya gak serius2 amat, atau masih dalam batas kemampuan saya, tapi untuk beberapa kasus ekstrim, perasaan saya malah bisa jadi sangat kacau balau, karena saya ngerasain sesuatu yang terlalu buruk atau saya ngerasa begitu, dan sebenernya nggak… T_T!– dari perasaan orang tersebut. gak banyak sih kasus begini, tapi klo udah ketemu, waduh, bisa gawat ^^’

klo ketemu yang kayak gitu, biasanya saya minta orang yang saya ajak ngobrol berhenti, supaya perasaan saya gak masuk terlalu jauh –maklum, saya sering hiperbolis, membesar2kan masalah, sweat with small stuffs ^^’–. terus saya coba kasih masukan sejauh yang saya mampu. sisanya, saya kasih solusi general tentang masalah nya, dan terserah gimana orang tadi menggunakan solusi itu buat mengatasi masalahnya sendiri. kasus kayak gitu baru beberapa aja, jadi sejauh ini saya masih belum cukup terlatih mengatasi perasaan2 yang muncul. ditambah lagi sebenernya juga saya bukan orang hebat yang hidup dengan solusi hebat, saya hanya orang biasa dengan kemampuan ‘aneh’ yang gak tau datengnya dari mana –ya dari Allah lah, bang!!!–. jadi klo ketemu masalah yang ekstrim, hhhmm, butuh energi lebih supaya bisa mengatasi masalah itu. dan biasanya saya jadi capek sendiriagain, sweat with small stuffs ^^’–

23
Nov
08

Blog lapo tuak diblokir WORDPRESS

mantap, gaaaannn!!! semalem liat di running text sebuah stasiun televisi, katanya menkominfo mengirim surat terima kasih ke wordpress. pikir saya, “wah, berarti si lapo tuak udah gak ada nih!”. dan ternyata bener, udah diblokir :D

lapotuak-diblokir1

baguslah, sebelum jadi berita yang terlalu heboh :) )
thanks
buat semua pihak yang udah ikut berpartisipasi mengantisipasi –kata yang aneh ^^’– berkembangnya situs aneh ini –DEPKOMINFO, dan tentu saja WORDPRESS :)




Hmm, tanggal berapa ya sekarang??

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
"WORLD consists of W, O, R, L, and D; not S, U, C, K, and S"

i’m tweeting

  • Please retweet: petition '#dukungkpk' - http://301.to/bey pada 3 weeks ago
  • gile, terakhir update 24 hari yang lalu. surely ain't a twitaholic pada 1 month ago
  • mana yang lebih primitif, percaya ada tuhan atau percaya tidak ada tuhan? pada 1 month ago
  • oh pak bos, maap kan diriku yang gak ngarti mo ngapain di kantor T_____T | pulang cepaaat! pada 1 month ago
  • bubur nyam nyam :p~ pada 1 month ago
  • @RiesaFiana A: "INI MIC GW!!!"; B: "NGGAK, INI MIC GWWW!!!"; mbRies: "kasssssiiih daaahhhh..." pada 1 month ago
  • masa' harus bugil di Circle K dulu baru bisa dapet banyak followers???? | twitting, not mobiling pada 1 month ago
  • eh, "RT" itu apa ya? tanya opa Gugel, diteruskan ke WikiAnswer, dan didapat: "To 'retweet' is to repeat/quote someone's tweet" pada 2 months ago