Archive for the ‘Buah Pikiran’ Category

why didn’t anis mata say that it simply because ahok is not a moslem. coward? yes, they are just a bunch of cowards.

and now i don’t know what to choose on 2014. i’m really really dissapointed…

kamu dan asap rokokmu

Posted: December 27, 2011 in Buah Pikiran, spontan

kenapa sih? iyah! kenapa sih?

kenapa sih gak anda telen aja asep nya? kenapa harus dikeluarin dan bikin semua orang di sekitar anda menderita? it’s your fucking smoke, you bloody smoker!

mungkin harus dibuat sebuah alat yang bisa menjamin supaya asap dari sebuah rokok gak dihisap selain oleh orang yang membakarnya. jadi kalo mereka gak bisa dipaksa untuk berhenti merokok, mereka harus bisa dipaksa untuk TIDAK mengeluarkan asap rokok. mubazir! udah disedot-sedot trus koq dibuang?? mungkin sebuah alat penghisap kecil yang gampang ditempel di suatu tempat di daerah kepala, deket mulut, yang secara otomatis akan menghisap asap rokok yang keluar dari mulut, atau hidung, atau mata, atau telinga, atau dari mana aja lah terserah.

plus sediakan hukuman gantung buat perokok yang gak bersedia menggunakan alat tersebut. digantung. ya! DI-GAN-TUNG!

Posted: February 9, 2011 in Buah Pikiran, spontan

bertemanlah dengan orang yang menghargai dan menghormati anda.
kalo anda terlanjur punya temen yang gak menghargai atau menghormati anda, ada dua pilihan:

1. buat teman tersebut menghargai dan menghormati anda, atau
2. tinggalkan

orang yang menghargai dan menghormati anda bisa menjadi sumber kekuatan,
orang yang merendahkan anda bisa menghabisi energi,
dan membuat orang lain menghargai dan menghormati anda, itu menunjukkan bahwa anda memiliki kekuatan πŸ˜›

anda hanya akan menghancurkan diri anda sendiri ketika mulai ‘terjebak’ di dalam hubungan dengan orang yang memiliki kecenderungan merendahkan anda. dan di sini, kita sedang berbicara tentang seorang teman.
teman, kategori untuk orang2 yang ada di dalam hidup anda, yang kehadirannya anda terima, omongannya anda dengar, dan pendapatnya anda anggap..

kita tidak sedang membicarakan bos anda, orang asing, apalagi seorang musuh –wait, that B word was mentioned separately!-. dan poin #2 di atas yg tentang tinggalkan, literally memang bisa secara fisik anda jauhi, atau secara pikiran anda singkirkan dari lingkaran pertemanan anda. jadi apa pun yg mereka katakan, bisa dengan mudah anda abaikan.

percayalah, ini penting untuk perkembangan mental anda!
karena saya udah ngerasain sendiri, heheheee…

dan ingat, sebagai seorang manusia, bisa jadi anda masuk ke dalam kategori teman bagi seseorang. jadi bersikaplah selayaknya seorang teman yang baik! dont you, EVER,Β  dare to look down on that wo/man who called you a friend!

be nice!

Posted: January 23, 2011 in Buah Pikiran, spontan

percayalah, bahwa kalimat “masak gitu aja gak tau?” bukanlah jawaban dari segala pertanyaan APA, dan kalimat “masak gitu aja gak ngerti?” bukanlah jawaban dari segala pertanyaan MENGAPA.

gak ada kontribusi positif dari dua kalimat tadi, selain bikin orang bete, jengkel, bahkan berminat nonjok anda tepat di muka!

tapi buat mereka yang pernah dihadiahi dua kalimat di atas, ada baiknya introspeksi diri, karena untuk beberapa hal, mungkin memang seharusnya tau, dan seharusnya ngerti, hehehee..

rutinitas itu semacam garis besar yang lewat gitu aja dalam hidup kita, karena selalu berjalan dan terjadi seperti biasanya, terus menerus, lagi lagi dan lagi, lalu akhirnya jadi hal yang: membosankan.

image

coba kita bayangin masa2 ketika kita masih kecil, di mana segala sesuatu nya terasa menarik ketika kita lakukan. segala detail kehidupan adalah sesuatu yang baru, dan karena baru, itu jadi sesuatu yang menarik dan luar biasa -si kecil, si penjelajah-.

gimana dulu waktu masih bayi, kita cuma bisa berbaring, terlentang. bahkan tengkurap pun kita belom bisa. ketika kita bisa tengkurap, orang2 di sekitar kita heboh, karena itu sesuatu yang baru -dan jadilah itu hal yang luar biasa-.

abis bisa terlentang, kita bisa pelan2 merangkak. aha! lagi2 sesuatu yang baru, dan luar biasa! lanjut ke berdiri, bisa berjalan sambil meniti pegangan, berjalan sendiri, bahkan kemudian berlari!

suatu hari kita yang masih kecil ketemu sama satu huruf yang menarik, huruf R. gimana sulitnya ngucapin satu huruf itu. klo belom bisa, dianggap masih cadel, dan belom dewasa. oke, pada akhirnya tantangan huruf R ini gak semua orang bisa ngelewatin, bahkan orang dewasa sekalipun πŸ˜› hari di mana kita bisa ngucapin huruf R ini, rasanya luar biasa, “i did it!”

di hari yang lain kita belajar gimana caranya memanfaatkan sendok sebagai alat untuk makan. awalnya belepotan, tapi tetep keliatan lucu karena fase belajar selalu terasa dan terlihat menarik -utamanya bagi anak kecil, karena si kecil adalah si penjelajah-.

sampai akhirnya kita ada di suatu momen di mana segalanya terasa biasa saja..

tengkurep, merangkak, berdiri, jalan, lari, huruf R, makan dengan sendok, udah bukan lagi sesuatu yang spesial. kita mengelompokkan hal2 tadi ke dalam kelompok kegiatan biasa. beberapa bahkan dilupakan, karena dianggap terlalu mudah dan semua orang bisa melakukannya. yang gak bisa, justru dianggap aneh, karena beda dengan apa yang biasa kita lihat dan tau.

hidup, begitulah. ketika segala hal menjadi mudah dan biasa dilakukan, hal itu jadi gak istimewa, biasa saja, remeh. ayam goreng jadi biasa aja -bahkan membosankan- klo dalam seminggu kita makan dengan racikan dan penyajian yang sama.

jadi bener kan klo rutinitas itu membosankan? hal yang bisa bikin rutinitas gak membosankan adalah, gak terlalu menjadikan rutinitas sesuatu yang rutin dan biasa. nah, rutinitas yang sekarang ini lagi saya alami -dan saya yakin juga begitu untuk kebanyakan teman sejawat saya- adalah berangkat ngantor. nyaris setiap hari melakukan hal yang sama: naik motor ke stasiun, titip motor, beli pakuan express, naik kereta, buka kursi lipet -yes, i’m the kulipers :D-, duduk mojok, sampe stasiun menuju halte busway, naik bus koridor 6, turun di karet kuningan, jalan kaki menuju kantor dengan rute yang nyaris itu2 aja.

gimana supaya gak bosen? you tell me! :)) saya juga masih berusaha bikin rutinitas itu jadi gak biasa. naik motor ke stasiun hampir pasti gak bisa diganti. kereta express, bisa aja sih diganti eko AC, tapi lebih lama karena berhenti di tiap stasiun. busway, klo naik express, ini yang paling gampang buat sampe kantor. klo ojek, mahal πŸ˜› nah, biasanya saya ganti rute jalan dari halte ke tempat kantor. biasa lewat pintu belakang, sekarang lewat pintu depan. sekarang juga lagi dibiasain gak naik lift, tapi lewat tangga. selain itu, belom ada yang istimewa ^_____^

intinya itu, gimana kita ngakalin rutinitas kita supaya gak sekedar jadi sesuatu yang biasa. susah emang, karena kita terikat sama perusahaan tempat kita kerja -bagi yang kerja, atau kampus bagi yang masih kuliah-. klo pun kita yang punya perusahaan, kita juga mungkin terjebak rutinitas karena masih menyangkut klien.

kalo kita mau lebih perhatiin lagi masalah rutinitas ini, kita sebenernya bisa ngeliat sebuah rutinitas yang di awal saya sebut sebagai sebuah garis besar, jadi garis garis yang lebih kecil yang jumlahnya sangat banyak. detail! itu kata kuncinya πŸ˜›

coba kita mulai memperhatikan detail, sekecil apa pun. contohnya saya, biasanya abis beli karcis, langsung dimasukin ke kantong, trus baru dikeluarin pas diminta sama petugas kereta. tapi sekarang detail berupa karcis itu saya perhatiin. apa warna nya, gimana motifnya, tulisan apa yang ada di sana, dll dll dll. walaupun saya mungkin lupa -dan ya, saya emang lupa, heheheheee…-, tapi itu jadi sesuatu yang menarik. mungkin bukan sesuatu yang bertahan lama, tapi dari situ saya bisa menyadari hal kecil yang tadinya remeh, jadi menarik karena saya perhatiin detailnya.

ada lagi. saya udah mulai terbiasa naik tangga. di situ saya perhatiin jumlah anak tangga yang ada dari lantai 1 sampai lantai 3 -tempat saya kerja-. saya bisa tau, jumlah anak tangga dari lantai 1 ke lantai 2 ada 18, terbagi sama rata pada dua rangkaian anak tangga. dari lantai 2 ke lantai 3 jumlahnya beda, yaitu 19, satu rangkaian berjumlah 9, rangkaian satu nya berjumlah 10. hal yang baru sadari ketika saya memperhatikan detail, dan itu jadi sesuatu yang menarik πŸ˜€

kita semua punya detail kehidupan masing2, dan saya yakin gak banyak orang yang memperhatikan detail. dan justru karena belom banyak itu lah, peluang untuk menemukan hal menarik di dalam kebiasaan yang kita sebut rutinitas ini semakin besar.

coba kita rasain hembusan angin di pagi hari ketika pertama kali keluar rumah. sama kah seperti kemaren? atau lebih dingin? lebih panas? atau hari ini gak ada angin berhembus? berapa jumlah langkah kaki yang kita perlukan dari rumah sampe kantor atau kampus, yang mungkin bisa bikin kita tercengang, “banyak juga ya?!” -ini belom saya coba, soalnya susah :))-. saya juga udah mulai hapal beberapa muka yang biasa saya temuin di kereta. saya bisa menilai kalo kertas karcis transjakarta itu bagus karena gampang dirobek, jadi kan gampang hancur dan didaur ulang -IMHO :P-. dan ternyata masih banyak hal yang perlu saya perhatiin!

bagi saya, menyelamatkan dari rutinitas itu sangat penting, terutama karena saya gak suka rutinitas, apalagi rutinitas yang HARUS saya lakukan. hhhhhhhh… malas! walaupun saya mempertahankan beberapa kebiasaan saya, kayak misalnya, saya biasa naro dompet di saku celana bagian belakang kanan, uang untuk ongkos saya simpen di saku baju, uang receh saya taro tas, uang pecahan besar saya taro di saku celana samping kanan buat nanti dipindah ke dompet, dan hape saya taro di kantong celana samping kiri. ini penting saya pertahanin, karena saya pelupa, supppeeerrrrr pelupa. jadi gampang ngecek barang2 yang harus saya bawa. raba kantong celana samping kiri, raba kantong celana belakang kanan. klo hape atau dompet -dua benda paling penting- ketinggalan, bisa langsung ketawan karena gak kerasa pas diraba. πŸ˜€

terutama lagi karena saya sejujurnya udah super bosen sama rutinitas wikdey. padahal baru juga setaun setengah saya kerja, tapi udah bosen. saya gak sanggup ngebayangin orang yang udah kerja belasan tahun, puluhan tahun! -what? kerja puluhan taun? so not me!-

jadi memperhatikan detail -demi menyelamatkan dari rutinitas- adalah hiburan yang biasa dan sedang dibiasakan saya lakukan tiap hari. mari mari mari, buat yang juga jengah dengan rutinitas, mulai lah memperhatikan detail kehidupan kita. jangan biarkan garis2 itu sekedar terlihat jadi sebuah garis besaaarrr, tapi kita nikmati setiap goresan kecil yang menyusun seluruh kehidupan kita πŸ˜€

image

fokus pada hal baik, bukan hal buruk. optimis! seperti melihat sebuah gelas yang terisi setengah, bisa dikatakan gelas sudah terisi setengah, atau masih kosong setengah,

tergantung perspektif,
tergantung bagaimana menilai hidup..

“A depressed individual may remember the person who ignored her in a conversation but not remember the person who found her interesting. Therefore, she may conclude, β€œI am a boring person”.” *

yep, ketika fokus pada keburukan, keburukan itu lah yang jadi bagian dari diri, sebuah jati diri!
mengerikan jika kita memilih buruk sebagai citra diri ini.

sebuah kalimat klise berbunyi hidup adalah pilihan. kita sendiri yang memilih, menjadi baik kah, atau menjadi buruk kah.




* dikutip dari sebuah file .pdf berjudul Cognitive Behavioural Therapy

it’s just a game,,,

Posted: February 1, 2010 in Buah Pikiran, Dari hati, spontan

life is like a game, but without Save button, Load button, or Exit button. it’s just a simple game, with Resume button on it. and you’ll never know, why did God press the New Game button ^__^